Manusia memang diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan ciptaan Allah swt yang lain. Namun manusia tetap memiliki serangkaian kekurangan dalam statusnya sebagai makhluk. Tidak ada manusia yang sempurna, utuh, tanpa cela dan kekurangan.
Yang sempurna hanya Allah swt, Sang Pencipta. Dialah Pemilik kesempurnaan. Dialah Dzat yang tanpa cela. Tanpa kekurangan. Tanpa kelemahan, dalam sifat, perbuatan, ketentuan, dan hukum-Nya, sehingga Dia tidak layak dibenci oleh siapapun. Sedang manunia, umumnya adalah makhluk yang mempunyai banyak kelemahan dan keterbatasan, dan Allah swt telah menegaskan sifat lemah mereka di dalam Al Qur’an, di mana mereka sering mendapatkan dispensasi-dispensa si hukum karena sifat lemah itu. Allah swt berfirman, “Allah hendak memberikan keringan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’: 28)
Sifat lemah manusia begitu jelas terlihat ketika mereka terkena musibah, atau tertimpa kesulitan, di mana mereka cenderung suka berkeluh kesah. Karena Allah swt pun memang telah melengkapi kelemahan mereka dengan sifat itu. Dia menegaskan, “Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (QS. Al Ma’arij: 19)
Manusia juga cenderung melakukan penyimpangan dan berlaku sombong, seperti disebutkan dalam ayat, “(Orang yang membanggakan diri) yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia ALlah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…” (QS. An Nisa’: 37)
Ini hanya sedikit ayat yang menjelaskan dan membuktikan bahwa manusia memang memiliki banyak cela dan kekurangan. Jika pun kita mendapati seseorang, yang menurut penilaian dan pandangan kita nyaris tak ada kekurangan, mungkin karena kita belum banyak berinteraksi dengannya.
Jika misalnya, suatu saat kita punya kesempatan untuk hidupbersama dengan orang itu, di sana kita pasti akan mendapati celah dalam dirinya kalau ternyata orang tersebut punya kekurangan. Kekurangan yang tidak tampak jika kita hanya melihatnya sekilas saja.
Begitu juga sebaliknya, jika kita memberikan penilaian pada seseorang dengan predikat penuh kekurangan, banyak kesalahan, barangkali di sisi lain Allah swt telah membekalinya dengan serangkaian kelebihan, yang mungkin saja melampaui kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita.
Maka, kalau kita menyadari ini, sangatlah pantas jika kita selalu menyediakan ruang dalam hati kita untuk dibenci, karena kita pun bukan manusia sempurna. Banyak kekurangan pada diri kita, yang mungkin saja akan tidak disukai oleh orang lain.
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Leave a reply